Utamakan Pelayanan, RPH Kota Solok Masih Terapkan Tarif lama

"Standar harga yang diatur dalam Perwako itu masih berpatokan dengan harga daging sekiatar 60 ribu per kilogramnya"
Kadis Pertanian Kota Solok, Kusnadi (KLIKPOSITIF/Syafriadi)

SOLOK KOTA, KLIKPOSITIF - Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) belum mampu memberikan kontribusi signifikan bagi Pendapatan Asli Daerah kota Solok. Sepanjang tahun 2017, RPH baru bisa memberikan kontribusi sebesar Rp149 juta atau hanya sekitar 68 persen dari target pendapatan senilai Rp219 juta.

Kondisi ini tidak terlepas dari masih rendahnya retribusi yang diterapkan terhadap biaya dan jasa operasional RPH. untuk satu ekor ternak, sesuai Perwako nomor 188.45/390/kpts/wsl-2012 dikenakan hanya Rp48 ribu per ekornya.

Standar harga yang diatur dalam Perwako itu masih berpatokan dengan harga daging sekiatar 60 ribu per kilogramnya. Sementara, saat ini harga daging sapi sudah berada di kisaran 120 ribu per kilogramnya. Pungutan retribusi ini dinilai sudah tidak relevan lagi untuk menutup biaya operasional RPH.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kota Solok, Kusnadi, operasional RPH saat ini masih bersifat pelayanan, belum untuk komersial atau mencari keuntungan. Hal itu dilakukan untuk menjaga dan menjamin pemenuhan kebutuhan daging di Kota Solok.

"Memang nilai retribusi saat ini masih mengacu pada Perwako yang lama. Kalau memang ada perubahan nanti tentu juga berdasarkan Perwako yang baru," ungkap Kusnadi didampingi Kepala UPTD RPH, Mahrudin.

Wacana untuk menaikkan retribusi pelayanan RPH memang sudah ada sejak dulu, mengingat sudah tidak relevannya nilai retribusi yang lama dengan kondisi saat ini. Akan tetapi, penaikkan nilai retribusi dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan harga daging di pasaran.

Secara tidak lansung, pihak Pemko Solok terpaksa mensubsidi untuk kelanjutan operasional RPH, mulai dari biaya operasional kendaraan angkut, perawatan RPH hingga biaya ... Baca halaman selanjutnya